Entri Populer

Kamis, 23 Februari 2012

HATI YANG MEMBARA


 Senja malam yang indah awan langit berterangan berisi seluruh bintang-bintang lengkap sudah dengan besertanya bulan. Tertampang kelap-kelip seperti tak punya Salah begitulah juga manusia yang percaya diri mau jadi dirinya sendri tak mau mengusik Orang lain Memandang lurus kedepan dengan apa yang dipunya tak melihat kekanan maupun kekiri seakan Sehari-harinya terasa cerah raut Wajahnya yg begitu rupawan menandakan hidupnya tak punya beban
“ Tapi tidak . . . . !!!
Semua itu belum tentu bisa Menjamin 100% yang hanya dilihat dari wajah dan keadaan semata.
                Sesudahlah teman keseharian Dia bintang . . . . . bintang dan bulan.  Bulan dan bintang yang selalu ikut serta dalam malam yang gelap terang gulita sepi berasa hidup sendiri tak ada Orang lain disekitarnya hanya ada aku .
Aku, bulan bintang dan kenangan yang ada disenja malam hari.
                Kebersamaan bulan bintang serta diiringi langit biru dan aku sejenak mengusik,
mengobati rasa untuk berjumpa dengan dirinya dan merasakan betapa dalam rasa saat bersama di dinginnya malam di sambut suara jangkrik dan katak bersuara bertambah lengkaplah semua itu tak terbayangkan.
                Melihat keatas langit hati dan perasaanku lega tapi tak mungkin setiap malam langit yang biru ada yang menghiasi gelapnya malam itu Mewakili perasaanku yang tanpa dirinya tidak ada yang istimewa sedikit pun di hati dan Wajahku entah kenapa juga selalu begitu.
 “ Tapi mungkinkah selama Masa hidupku akan terus menerus rasakan itu ????? ” tanya hatiku
 “ Mungkin enggak mungkin juga ” kataku menangis
 “ sabarlah . . . . . sabar impianmu belum berakhir ” kata hatiku
                Nada-nada jangkrik bersuara semakin keras, semakin . . . . . semakin pula sakitnya hatiku ingin melihat dirinya.
                Disudut-sudut langit bintang bertaburan tak ada satu pun untuk menandakan bahwa bintang itu akan jatuh.
Mengharap bintang jatuh juga pula mengharap kehadiran dirinya datang di dekatku .
Di jam-jam berlalu selalu mengharap bintang jatuh
 “ Apakah mungkin mengharap bulan jatuh ” kataku
 “ Bulan jatuh benar enggak mungkin jugakan ” jawab hatiku
                Di sela hari malam aku berfikir
 “ Apakah ada pengganti dia ” kata dalam hatiku .
 “ Lihat saja hari-hari berikutnya ”
                Bergurau malam yang senja tak ada angin tak ada hujan hanya humparan suara-suara hewan tak menentu hentian suara bergurau mengiringi hati dan jiwa sepi tanpa dirinya .
Dia . . . . . Dia Apa bisa merasakan apa yang aku Rasakan selama ini ????
Kalau memang dia masih mengingatku sedikip pun aku yakin-seyakinnya yakinnya dalam perasaanku terhadapnya bahwa dia bisa merasakan itu .  tenang dan tenang lah bulan dan bintang selalu ada seiring denganmu.
                Jika kelak nanti aku mati untuk terakhir kalinya aku ingin melihatmu dekap aku sebelim mataku terpejam Untuk selamanya .
Mengantarkan aku ketempat tidur terakhirku dalam tangisan banyak Orang yang mencoba merelakan, melepas kepergianku mengiklaskan Ragaku untuk kembali ke pada yang menciptakan sebelumnya .  aku hanya manusia biasa tak seperti Superman yang selalu bisa terbang kesana kemari semaunya sendiri .
 Aku, aku pasti akan mati begitu juga dengan dirinya dan Manusia lainnya .
                Tak kala yang hidup akan hidup terus yang mati pun akan hidup apa lagi yang hidup pastinya bakalan mati entah Waktunya kapan, Detik ini . . . . . Hari ini . . . . . mau pun nanti kita enggak tahu semua itu kapan akan terjadi sekarang Jalani saja semua dengan baik terima kekurangan dan kelebihan yang telah dimiliki tidak Memandang Orang lain Sebatas Mata belakang pandanglah dia lebih jauh agar bisa mengerti bagaimana dengan dirinya .
                Detik . . . . . Detik malam hariku selalu memandang ke arah bintang ketika langit biru yang luas tanpa bintang tatiku pun ikut suram mungkin juga dengan langit yang biasanya Cerah dengan bulan dn bintang mataku berkaca-kaca Menghiasai Pipi dan Raut Wajahku yang tak berwarna yang Curam tak karuan .
                Satu langit tak ada yang menghiasi tak ada dia tak ada Bulan dan bintang yang menemaniku dimalam itu .
Hatiku panas seperti api yang sedang Membara tak bisa padam kalau hanya Cuma di Lihat dan di pandang dari Mata, semua itu butuh Perbuatan dan akal pikiran untuk melelehkan menjadi padam tidak berkobaran meluas kesekitar .
                Semata-mata yang ada hanya Dia dirinya seorang
  “ Oouhhhhhhhh . . . . . So sweetttttttttttt ” kataku
Seketika Jam berganti bersertaan Detik-detiknya tak lelah menanti dan menantinya tak bosan mengharapnya tak Jenuh menunggu kehadirannya Sepanjang Malam yang ku lalui Bersama bintang dan bulan tak sedikit aku tak memikirkan dia selalu .
                Tanpa Dia tahu apa maksudku tentang kelakuan dan sifatku jadi tak menentu
“ Mengapa dulu harus mengenalnya kalau akhirnya jadi berantakan tak menentu .
Kenapa juga harus ada perkenalan kalau akhirnya ada penyesalan tapi tanpa adanya itu aku tidak bisa merasakan senang sedihnya saat dengannya biar pun akhirnya jadi begini .
Aku Melihat bulan dan bintang biasanya Dia juga melihat sebagai tanda kesatuan kita .
  “ Sekarang Mottoku : Yang Lalu biarlah berlalu mari kita buka Lembaran baru ”
Lupakanlah Opsesi dan Ambisumu semua cukup berakhir sampai disini .
Biar kata kamu ingin membenciku .
                Ikutilah setiap lamgkah gerak-gerik langkah kakimu kedepan supaya lebih mengerti keadaan enggak egois dan pengen menang sendiri .
Pahamilah Alam sekitar Merasakan segarnya Alam yang ada .  Sejuknya hembusan angin yang berhembus Sepoy . . . . . Sepoy menyegarkan Badan dan Rasa beban hilang sesaat terbawa Angin entah jauh kemana Arahnya .
Bergurau Riang hati tentram seakan terbang Melayang jauh ke awan Mengelilingi dunia dengan Riang tanpa Beban pikiran .  Memandang semua Alam dengan sesaat, tapi hanya engkau tahu bahwa itu hanya sebuah khayalan tingkat tinggi yang tidak Memungkinkan jadi kenyataan .
Jangan berlebih-lebihan dalam menjalani hidup tidak akan yang ada akan Musnah dengan di hitung beberapa Detik demi detik .  Berusahalah untuk bisa dari pada tidak mencoba sama sekali tidak pantang menyerah selalu optimis menuju hidup yang damai berkecukupan membantu sekitar  seketika membutuhkan .
                Setelah malam berlalu berganti malam lagi bersama kenangan, Bulan dan bintang beserta langit biru pagi menjelang siang pun tiba hawa panas membara sesaat Matahari bersinar cerah dalam panasnya Alam Merasuk kedalam yang menyelimuti badan bersmaan Aktifitas yang sedang di lakulan tak kenal waktu pagi, siang dan malam .
Di sela siang hari yang dirasakan panas . . . . . hanya panas yang membara yg menyebabkan hatiku gelisah karna dirinya sesaat dia bersama Orang lain Rasanya Hatiku panas terbakar api cemburu yang buta.
Membutakan hatiku untuk tidak membuka perasaanku ke Orang lain.
  “ Ya sudahlah ” dalam hatiku
Dia ya Dia , Aku ya Aku !!!!!!!!!!!!
Perasaan dan Hatiku yang sudah membara jauh diikuti hari siang yang Rasanya pun tidak kalah dengan panasnya siang hari yg begitu panas .
  “ Sekarang atau pun nanti Aku tidak akan pernah membencimu ” kata hatiku
Tidak seperti api yang begitu saja Meninggalkan Abunya ”
Terimakasih untuk Dia yang pernah mau singgah dihatiku biar pun sampai sekarang aku masih merasakan sesuatu di dirimu seaka Hatiku yang membara .


 created by: Ria Nurlina

HATI YANG MEMBARA




Senja malam yang indah awan langit berterangan berisi seluruh bintang-bintang lengkap sudah dengan besertanya bulan. Tertampang kelap-kelip seperti tak punya Salah begitulah juga manusia yang percaya diri mau jadi dirinya sendri tak mau mengusik Orang lain Memandang lurus kedepan dengan apa yang dipunya tak melihat kekanan maupun kekiri seakan Sehari-harinya terasa cerah raut Wajahnya yg begitu rupawan menandakan hidupnya tak punya beban
“ Tapi tidak . . . . !!!
Semua itu belum tentu bisa Menjamin 100% yang hanya dilihat dari wajah dan keadaan semata.
                Sesudahlah teman keseharian Dia bintang . . . . . bintang dan bulan.  Bulan dan bintang yang selalu ikut serta dalam malam yang gelap terang gulita sepi berasa hidup sendiri tak ada Orang lain disekitarnya hanya ada aku .
Aku, bulan bintang dan kenangan yang ada disenja malam hari.
                Kebersamaan bulan bintang serta diiringi langit biru dan aku sejenak mengusik,
mengobati rasa untuk berjumpa dengan dirinya dan merasakan betapa dalam rasa saat bersama di dinginnya malam di sambut suara jangkrik dan katak bersuara bertambah lengkaplah semua itu tak terbayangkan.
                Melihat keatas langit hati dan perasaanku lega tapi tak mungkin setiap malam langit yang biru ada yang menghiasi gelapnya malam itu Mewakili perasaanku yang tanpa dirinya tidak ada yang istimewa sedikit pun di hati dan Wajahku entah kenapa juga selalu begitu.
 “ Tapi mungkinkah selama Masa hidupku akan terus menerus rasakan itu ????? ” tanya hatiku
 “ Mungkin enggak mungkin juga ” kataku menangis
 “ sabarlah . . . . . sabar impianmu belum berakhir ” kata hatiku
                Nada-nada jangkrik bersuara semakin keras, semakin . . . . . semakin pula sakitnya hatiku ingin melihat dirinya.
                Disudut-sudut langit bintang bertaburan tak ada satu pun untuk menandakan bahwa bintang itu akan jatuh.
Mengharap bintang jatuh juga pula mengharap kehadiran dirinya datang di dekatku .
Di jam-jam berlalu selalu mengharap bintang jatuh
 “ Apakah mungkin mengharap bulan jatuh ” kataku
 “ Bulan jatuh benar enggak mungkin jugakan ” jawab hatiku
                Di sela hari malam aku berfikir
 “ Apakah ada pengganti dia ” kata dalam hatiku .
 “ Lihat saja hari-hari berikutnya ”
                Bergurau malam yang senja tak ada angin tak ada hujan hanya humparan suara-suara hewan tak menentu hentian suara bergurau mengiringi hati dan jiwa sepi tanpa dirinya .
Dia . . . . . Dia Apa bisa merasakan apa yang aku Rasakan selama ini ????
Kalau memang dia masih mengingatku sedikip pun aku yakin-seyakinnya yakinnya dalam perasaanku terhadapnya bahwa dia bisa merasakan itu .  tenang dan tenang lah bulan dan bintang selalu ada seiring denganmu.
                Jika kelak nanti aku mati untuk terakhir kalinya aku ingin melihatmu dekap aku sebelim mataku terpejam Untuk selamanya .
Mengantarkan aku ketempat tidur terakhirku dalam tangisan banyak Orang yang mencoba merelakan, melepas kepergianku mengiklaskan Ragaku untuk kembali ke pada yang menciptakan sebelumnya .  aku hanya manusia biasa tak seperti Superman yang selalu bisa terbang kesana kemari semaunya sendiri .
 Aku, aku pasti akan mati begitu juga dengan dirinya dan Manusia lainnya .
                Tak kala yang hidup akan hidup terus yang mati pun akan hidup apa lagi yang hidup pastinya bakalan mati entah Waktunya kapan, Detik ini . . . . . Hari ini . . . . . mau pun nanti kita enggak tahu semua itu kapan akan terjadi sekarang Jalani saja semua dengan baik terima kekurangan dan kelebihan yang telah dimiliki tidak Memandang Orang lain Sebatas Mata belakang pandanglah dia lebih jauh agar bisa mengerti bagaimana dengan dirinya .
                Detik . . . . . Detik malam hariku selalu memandang ke arah bintang ketika langit biru yang luas tanpa bintang tatiku pun ikut suram mungkin juga dengan langit yang biasanya Cerah dengan bulan dn bintang mataku berkaca-kaca Menghiasai Pipi dan Raut Wajahku yang tak berwarna yang Curam tak karuan .
                Satu langit tak ada yang menghiasi tak ada dia tak ada Bulan dan bintang yang menemaniku dimalam itu .
Hatiku panas seperti api yang sedang Membara tak bisa padam kalau hanya Cuma di Lihat dan di pandang dari Mata, semua itu butuh Perbuatan dan akal pikiran untuk melelehkan menjadi padam tidak berkobaran meluas kesekitar .
                Semata-mata yang ada hanya Dia dirinya seorang
  “ Oouhhhhhhhh . . . . . So sweetttttttttttt ” kataku
Seketika Jam berganti bersertaan Detik-detiknya tak lelah menanti dan menantinya tak bosan mengharapnya tak Jenuh menunggu kehadirannya Sepanjang Malam yang ku lalui Bersama bintang dan bulan tak sedikit aku tak memikirkan dia selalu .
                Tanpa Dia tahu apa maksudku tentang kelakuan dan sifatku jadi tak menentu
“ Mengapa dulu harus mengenalnya kalau akhirnya jadi berantakan tak menentu .
Kenapa juga harus ada perkenalan kalau akhirnya ada penyesalan tapi tanpa adanya itu aku tidak bisa merasakan senang sedihnya saat dengannya biar pun akhirnya jadi begini .
Aku Melihat bulan dan bintang biasanya Dia juga melihat sebagai tanda kesatuan kita .
  “ Sekarang Mottoku : Yang Lalu biarlah berlalu mari kita buka Lembaran baru ”
Lupakanlah Opsesi dan Ambisumu semua cukup berakhir sampai disini .
Biar kata kamu ingin membenciku .
                Ikutilah setiap lamgkah gerak-gerik langkah kakimu kedepan supaya lebih mengerti keadaan enggak egois dan pengen menang sendiri .
Pahamilah Alam sekitar Merasakan segarnya Alam yang ada .  Sejuknya hembusan angin yang berhembus Sepoy . . . . . Sepoy menyegarkan Badan dan Rasa beban hilang sesaat terbawa Angin entah jauh kemana Arahnya .
Bergurau Riang hati tentram seakan terbang Melayang jauh ke awan Mengelilingi dunia dengan Riang tanpa Beban pikiran .  Memandang semua Alam dengan sesaat, tapi hanya engkau tahu bahwa itu hanya sebuah khayalan tingkat tinggi yang tidak Memungkinkan jadi kenyataan .
Jangan berlebih-lebihan dalam menjalani hidup tidak akan yang ada akan Musnah dengan di hitung beberapa Detik demi detik .  Berusahalah untuk bisa dari pada tidak mencoba sama sekali tidak pantang menyerah selalu optimis menuju hidup yang damai berkecukupan membantu sekitar  seketika membutuhkan .
                Setelah malam berlalu berganti malam lagi bersama kenangan, Bulan dan bintang beserta langit biru pagi menjelang siang pun tiba hawa panas membara sesaat Matahari bersinar cerah dalam panasnya Alam Merasuk kedalam yang menyelimuti badan bersmaan Aktifitas yang sedang di lakulan tak kenal waktu pagi, siang dan malam .
Di sela siang hari yang dirasakan panas . . . . . hanya panas yang membara yg menyebabkan hatiku gelisah karna dirinya sesaat dia bersama Orang lain Rasanya Hatiku panas terbakar api cemburu yang buta.
Membutakan hatiku untuk tidak membuka perasaanku ke Orang lain.
  “ Ya sudahlah ” dalam hatiku
Dia ya Dia , Aku ya Aku !!!!!!!!!!!!
Perasaan dan Hatiku yang sudah membara jauh diikuti hari siang yang Rasanya pun tidak kalah dengan panasnya siang hari yg begitu panas .
  “ Sekarang atau pun nanti Aku tidak akan pernah membencimu ” kata hatiku
Tidak seperti api yang begitu saja Meninggalkan Abunya ”
Terimakasih untuk Dia yang pernah mau singgah dihatiku biar pun sampai sekarang aku masih merasakan sesuatu di dirimu seaka Hatiku yang membara .


 created by: Ria Nurlina

Legenda Jaka Tarub
















Tergoda ingin punya istri cantik menawan, Jaka tarub nekad mencuri dan menyembunyikan selendang terbang salah satu dari 7 bidadari yang kebetulan ia pergoki lagi bersiram sambil bercanda ria disebuah telaga. Ditinggal pergi oleh saudara-saudaranya yang tak mampu berbuat apa-apa, Nawang Wulan yang selendangnya dicuri akhirnya bersedia diperistri oleh Jaka tarub. Dengan ketentuan Jaka Tarub tidak boleh melanggar pantangan-pantangan tertentu yang disyaratkan oleh Nawang Wulan.
Mulanya Jaka tarub dan Nawang Wulan hidup berbahagia, apalagi setelah mereka dikaruniai seorang putri yang tak kalah cantik dengan ibunya, yang mereka berinama Nawang Asih. Lalu kecurigaan-kecurigaan pun mulai timbul. Baik dari Nawang Asih, terutama dari ayahnya Jaka Tarub, yang tak habis pikir dengan keanehan - keanehan yang sering dilakukan oleh Nawang Wulan untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka yang diam-diam selalu mempergunakan kemampuan sihirnya sebagai seorang bidadari.
Lalu tanpa sadar Nawang Asih maupun Jaka Tarub yang sempat menuding Nawang Wulan berselingkuh dengan pria lain, akhirnya nekad melanggar pantangan. Dan berakibat selendang yang pernah dicuri oleh Jaka Tarub akhirnya ditemukan oleh sang pemilik, Nawang Wulan. Hal mana mau tak mau memaksa anak beranak itu harus berpisah keadaan tempat mereka hidup jelas berbeda dan tak mungkin menyatu. Jaka Tarub dan Nawang Asih harus melanjutkan kehidupan dibumi, sementara Nawang Wulan kembali ke tengah kehidupan keluarganya di Istana Langit.
Dan derita demi derita pun kemudian datang mendera. Tidak hanya pada diri Jaka tarub dan putrinya Nawang Asih, tetapi juga pada Nawang Wulan di Istana Langit. Puncaknya adalah ketika Istana Langit yang didiami oleh keluarga Nawang Wulan diserbu oleh segerombolan jin jahat pimpinan Bintara yang sudah lama ingin mempersunting tidak hanya Nawang WUlan tetapi juga ke 6 saudaranya yang lain. Keinginan yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh ke 7 bidadari maupun orangtua mereka.
Akibatnya fatal ! Pertempuran antara jin pun tak dapat lagi dihindari. Istana Langit berhasil dikuasai oleh Bintara setelah lebih dulu menaklukan Maudara. Raja dari ayah ke 7 bidadari yang kemudian jatuh terhempas ke bumi, persis ke permukaan telaga tempat dimana Jaka tarub tengah meratapi nasib malangnya.
Mantu dan mertua pun saling berbagi cerita. Antara lain, Nawang Wulan dapat turun kembali ke bumi dan hidup sebagai manusia biasa, jika Jaka tarub mampu menebus kesalahannya dulu. Mencuri selendang Nawang Wulan. Yakni, menyelamatkan Nawang Wulan dan ke 6 saudaranya yang lain dari kedzaliman serta angkara murka jin jahat Bintara.
Dan untuk itu Jaka Tarub harus terbang ke Istana Langit. Siap berkorban nyawa demi hasrat yang kuat dan tulus untuk kembali menyatukan keluarganya dalam kehidupan yang tenang dan damai. (And)


Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak







Danau Singkarak dengan luas 107,8 m2 merupakan danau terluas kedua setelah Danau Toba di Pulau Sumatra, Indonesia. Danau yang berada di ketinggian 36,5 meter dari permukaan laut ini terletak di dua kabupaten di Provinsi Sumatra Barat, yaitu Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar. Menurut cerita, danau yang juga merupakan hulu Sungai Batang Ombilin ini dahulu memang merupakan lautan luas. Namun karena terjadi sebuah peristiwa yang luar biasa, air laut tersebut menyusut. Peristiwa Apakah yang menyebabkan air laut tersebut menyusut, sehingga lautan itu berubah menjadi danau? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak berikut ini.

* * *

Alkisah, di sebuah kampung di daerah Sumatra Barat, hiduplah keluarga Pak Buyung. Ia tinggal di sebuah gubuk di pinggir laut bersama istri dan seorang anaknya yang masih kecil bernama Indra. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Pak Buyung bersama istrinya mengumpulkan hasil-hasil hutan dan menangkap ikan di laut. Setiap pagi mereka pergi ke hutan di Bukit Junjung Sirih untuk mencari manau, rotan, dan damar untuk dijual ke pasar. Jika musim ikan tiba, mereka pergi ke laut menangkap ikan dengan menggunakan pancing, bubu ataupun jala.

Ketika sudah berumur sepuluh tahun, Indra sering membantu kedua orangtuanya ke hutan maupun ke laut. Betapa senang hati Pak Buyung dan istrinya mempunyai anak yang rajin seperti Indra. Namun, ada satu hal yang membuat mereka risau, karena si Indra memiliki suatu keanehan, yaitu selera makannya amatlah berlebihan. Dalam sekali makan, ia dapat menghabiskan nasi setengah bakul dengan lauk beberapa piring.

Pada suatu ketika, musim paceklik tiba. Baik hasil hutan maupun hasil laut sangat sulit diperoleh. Untuk itu, keluarga Pak Buyung harus berhemat terutama menahan selera makan. Mereka harus makan apa adanya. Jika tidak ada nasi, mereka makan ubi atau pun keladi (talas). Cukup lama musim paceklik berlangsung, sehingga mereka semakin kesulitan mendapatkan makanan. Hal itu rupanya membuat mereka lebih peduli pada diri sendiri daripada terhadap anaknya. Kesulitan mendapatkan makanan itu juga membuat mereka hampir berputus asa. Mereka sering bermalas-malasan pergi mencari rotan ke hutan dan mencari ikan ke laut.

Sudah beberapa hari keluarga Pak Buyung hanya makan ubi bakar. Tentu hal itu tidak mengenyangkan perut si Indra. Suatu hari, Indra menangis minta makanan kepada kedua orangtuanya.

“Ayah, carikan saya makanan! Saya sangat lapar,” keluh Indra.

“Hei, anak malas! Kalau kamu lapar carilah sendiri makanan ke hutan atau ke laut sana!” seru ayahnya dengan nada kesal.

“Pak! Bukankah anak kita masih kecil? Tentu dia belum bisa mencari makanan sendiri,` sahut sang Ibu.

“Iya, dia memang masih anak-anak. Tapi, dia yang paling banyak makannya,” bantah sang suami.

Mendengar bantahan suaminya itu, sang Istri pun diam. Ia kemudian membujuk Indra agar berangkat sendiri ke Bukit Junjung Sirih untuk mencari hasil-hasil hutan di Bukit. Indra pun menuruti nasehat ibunya. Sebelum berangkat ke hutan, Indra terlebih dahulu memberi makan seekor ayam piaraannya yang bernama Taduang. Si Taduang adalah seekor ayam yang pandai. Setiap kali tuannya (si Indra) pulang dari hutan, ia selalu berkokok menyambut kedatangan tuannya.

Menjelang siang, Indra pulang dari hutan tanpa membawa hasil. Keesokan harinya, ayahnya memerintahkannya pergi ke laut untuk memancing ikan. Saat Indra pergi ke laut, ayah dan ibunya hanya tidur-tiduran di gubuk. Tampaknya, mereka benar-benar sudah putus asa menghadapi kesulitan hidup. Keadaan demikian berlangsung selama sebulan, sehingga Indra merasa tubuhnya sangat lelah dan berniat untuk beristirahat beberapa hari.

Pada suatu hari, sepulang dari laut mencari ikan, Indra berkata kepada ayahnya:

“Ayah! Badanku terasa sangat letih. Bolehkah saya beristirahat untuk beberapa hari?” pinta Indra.

“Apa katamu? Dasar anak malas! Kamu tidak boleh beristirahat. Besok kamu harus tetap kembali ke laut mencari ikan,” ujar sang Ayah.

Oleh karena tidak ingin membatah perintah ayahnya, keesokan harinya Indra pergi ke laut mencari ikan. Ketika Indra berangkat ke laut, secara diam-diam ibunya juga berangkat ke laut. Tapi, ia menuju ke sebuah tanjung, agak jauh dari tempat Indra mencari ikan. Sementara ayahnya pergi ke hutan.

Menjelang siang, Pak Buyung kembali dari hutan dengan membawa seikat ijuk. Sesampainya di rumah, ia melihat istrinya sedang membersihkan pensi (sejenis kerang berukuran kecil).

“Sedang apa, Bu?” tanya Pak Buyung kepada istrinya.

“Sedang membersihkan pensi, Pak! Tadi ketika hendak mencari ikan di laut, aku melihat banyak warga dari kampung tetangga sedang mencari pensi. Akhirnya aku pun ikut mencari pensi bersama mereka,” jawab istrinya.

“Bagaimana cara memasaknya? Bukankah Ibu belum pernah memasak pensi sebelumnya? ” tanya Pak Buyung.

“Tenang, Pak! Kata seorang warga dari kampung tetangga, daging pensi enak jika dimasak pangek[1],” jelas istrinya.

“Wah, kalau begitu, kita makan enak siang ini,” ucap Pak Buyung sambil mengusap-usap perutnya yang sudah keroncongan.

Setelah membersihkan pensi itu, sang Istri pun segera membuatkan bumbu dan memasaknya. Tak lama kemudian, aroma masakan pangek pun tercium oleh Pak Buyung.

“Wah, harum sekali aromanya. Istriku memang pintar memasak,” puji Pak Buyung seraya mendekati istrinya yang sedang masak di dapur.

“Bu, apakah pangek ini cukup kita makan bertiga?” tanya Pak Buyung.

“Tentu saja cukup,” jawab istrinya.

“Apakah Ibu sudah lupa kalau si Indra makannya banyak? Pangek ini pasti tidak cukup dia makan sendiri,” kata Pak Buyung.

`Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan, Pak?” tanya istrinya.

“Bagaimana kalau kita makan diam-diam, selagi si Indra masih berada di laut,” saran Pak Buyung.

“Tapi, sebentar lagi dia pulang,” kata istrinya.

“Kalau dia pulang, pasti akan ketahuan.,” ucap Pak Buyung.

“Bagaimana Bapak bisa mengetahuinya!” tanya istrinya.

“Jika si Taduang berkokok, berarti si Indra telah pulang,” jawab Pak Buyung.

Sang Istri pun mengangguk-angguk mendengar jawaban suaminya. Keduanya pun menyantap pangek itu dengan lahapnya. Namun, baru makan beberapa suap, tiba-tiba ayam peliharaan Indra berkokok. Mendengar kokok ayam itu, kedua suami-istri itu segera mencuci tangan, lalu membereskan makanan dan menyembunyikannya di bawah tempat tidur. Ketika Indra masuk ke gubuk, ia melihat kedua orangtuanya sedang duduk-duduk bersantai. Kedua orangtuanya terlihat tenang, seakan-akan tidak ada sesuatu yang terjadi.

“Hei, Indra! Mana ikan yang kamu peroleh?” tanya ayahnya.

“Maaf, Ayah! Hari ini aku tidak memperoleh ikan?” jawab Indra dengan wajah kusut.

“Kenapa kamu pulang kalau belum memperoleh ikan?” tanya ayahnya.

“Maaf, Ayah! Saya sangat letih dan lapar,” jawab Indra.

“Hei, apa yang bisa kamu makan kalau tidak memperoleh ikan?” sang Ayah kembali bertanya.

“Saya sudah berusaha, Ayah. Tapi belum berhasil,” jawab Indra.

“Ayah, Ibu! Adakah sesuatu yang bisa saya makan. Sekedar pengganjal perut,” pinta Indra kepada kedua orangtuanya.

“Tidak! Hari ini tidak ada makanan untuk anak pemalas,” kata ayahnya.

“Tapi, Ayah! Saya lapar sekali,” keluh Indra sambil memegang perutnya.

“Baiklah! Kamu boleh makan, tapi kamu harus mencuci ijuk ini sampai bersih,” sahut ibunya sambil menyerahkan ijuk yang tadi dibawa suaminya dari hutan.

Indra pun segera pergi ke laut mencuci ijuk itu karena ingin mendapatkan makanan dari kedua orangtuanya. Ketika Indra berangkat ke laut, kedua orangtuanya kembali melanjutkan acara makan mereka.

“Wah, meskipun baru kali ini Ibu memasak pangek pensi, tapi rasanya lezat sekali,” sanjung Pak Buyung kepada istrinya.

Sang Istri tersenyum mendengar sanjungan suaminya. Kemudian sepasang suami istri itu makan pangek dengan lahapnya. Mereka baru berhenti makan setelah perut mereka benar-benar sudah penuh. Selesai makan, mereka kembali menyembunyikan makanan yang masih tersisa di bawah tempat tidur. Tidak beberapa lama kemudian, si Taduang terdengar berkokok, pertanda tuannya telah kembali dari laut. Ketika masuk ke dalam gubuk, Indra melihat kedua orangtuanya masih sedang duduk bersantai.

“Bagaimana? Apakah ijuk itu sudah bersih kamu cuci?” tanya ibunya.

“Sudah, Bu,” jawab Indra sambil meletakkan ijuk itu di depan ibunya.

“Hah! Kenapa masih hitam begini? Kamu harus mencucinya hingga berwarna putih,” ujar ibunya.

“Tapi, Bu! Aku sudah berusaha mencucinya berkali-kali, bahkan aku menggosoknya dengan campuran pasir, tapi masih tetap berwarna hitam,” sanggah Indra.

“Ah, alasan saja! Cuci lagi ijuk itu ke laut!” seru ayahnya.

Dengan langkah sempoyongan, Indra pun kembali ke laut. Sesampainya di laut, ia terus berusaha mencuci dan menggosok ijuk itu hingga berkali-kali, tetapi tetap saja berwarna hitam. Rupanya Indra yang masih anak-anak tidak mengetahui jika ijuk itu memang pada dasarnya berwarna hitam. Meskipun ijuk itu berkali-kali dicuci dan digosok, tentu tidak akan pernah berwarna putih.

Menjelang senja, Indra kembali ke gubuknya. Ketika masuk ke ruang tengah gubuknya, ia tidak lagi melihat kedua orangtuanya duduk-duduk. Dengan pelan-pelan, ia melangkah menuju ke ruang dapur. Betapa terkejutnya ia ketika melihat kedua orangtuanya sedang tertidur pulas di ruang dapur. Di sekeliling mereka berserakan piring makan, bakul nasi, dan panci pangek pensi yang telah kosong. Hanya kuah dengan beberapa cuil daging pensi yang tersisa.

Alangkah sedihnya hati Indra menyaksikan semua itu. Kini ia menyadari bahwa kedua orangtuanya telah menipu dan membohonginya. Namun, sebagai anak yang berbakti, dia tidak ingin marah kepada mereka yang telah melahirkannya. Ia pun berjalan keluar dari gubuknya sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya. Saat berada di luar gubuk, ia langsung menangkap ayam kesayangannya, si Taduang. Kemudian ia duduk di atas batu di samping gubuknya sambil mengusab-usap bulu si Taduang.

“Taduang! Rupanya Ayah dan Ibuku telah menipuku. Untuk apalagi aku tinggal bersama mereka di sini, kalau mereka sudah tidak menyayangiku lagi,” kata Indra kepada ayamnya.

Mendengar pernyataan Indra, ayam itu pun berkokok berkali-kali, pertanda bahwa ia mengerti perasaan tuannya. Si Taduang kemudian mengepak-ngepakkan sayapnya. Indra pun mengerti bahwa ayam kesayangannya itu akan mengajaknya pergi meninggalkan kampung itu. Dengan cepat, Indra pun segera berpegangan pada kaki si Taduang. Beberapa saat kemudian, si Taduang terbang ke udara, sementara Indra tetap berpegangan pada kakinya. Saat tubuh Indra terangkat, batu tempat Indra duduk itu juga ikut terangkat. Anehnya, semakin tinggi mereka terbang, batu itu semakin membesar. Akhirnya, si Taduang pun sudah tidak kuat lagi membawa terbang si Indra bersama batu besar itu. Melihat hal itu, Indra pun segera menyentakkan kakinya, sehingga batu besar itu melesat menuju ke bumi dan menghantam salah satu bukit yang ada di sekitar lautan. Hantaman batu itu membentuk sebuah lubang memanjang. Dengan cepat, air laut pun mengalir ke arah lubang itu dan menembus bukit, sehingga membentuk aliran sungai.

Konon, itulah yang menjadi asal mula Sungai Batang Ombilin, yang bermuara ke daerah Riau. Semakin lama air laut itu semakin menyusut, sehingga lautan itu berubah menjadi Danau Singkarak yang hingga kini menjadi kebanggaan masyarakat Solok. Sementara Indra yang diterbangkan oleh ayam kesayangannya, si Taduang, hingga kini tidak diketahui keberadaannya.